BABI
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dari waktu kewaktu, suatu perekonomian di negara – negara dunia selalu mengalami kemajuan dan kemunduransalah satunya yang terjadi di Indonesia. Di Indonesia sendiri khususnya pernah mengalami kemunduran ekonomi /
inflasi yang sangat parah yakni pada tahun 1966 pada era Presiden Soekarno.
Tingkat inflasi pada tahun tersebut mencapai 635%. Itu angka yang luar biasa besarnya.
Disuatu saat
produksi meningkat,tetapi disaat lain menurun.Begitu pula dengan keuntungan
perusahaan,harga barang,dan biaya hidup maupun pendapatan nasional.Untuk
melakukan perbandingan antara variabel yang sama dalam dua waktu yang
berbeda,diperlukan sebuah angka indeks.Melalui angka indeks,kita dapat
mengetahui maju mundurnya suatu usaha atau kegiatan,naik turunnya
pendapatan,harga.Secara sederhana inflasi diartikan
sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga
dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila
kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.
Kebutuhan manusia
sangat tidak terbatas sedangkan alat pemenuh kebutuhan tersebut sangat
terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut setiap manusia tidak dapat
memproduksinya sendiri tetapi memerlukan pihak lain. Salah satu satu aktivitas
yang tak pernah lepas dari kegiatan pemenuhan kebutuhan tersebut adalah
kegiatan perdagangan. Kegiatan perdagangan merupakan proses pertukaran yang
memerlukan alat tukar yang bernama uang. Jika perdagangan dilakukan dalam satu
negara tentu saja dapat dilakukan melalui mata uang negara yang bersangkutan,
tetapi jika dalam perekonomian terbuka atau perdagangan antar negara tentu saja
terdapat dua mata uang yang berbeda.
Dalam kajian mengenai teori
permintaan uang, ada beberapa golongan yang berpendapat. Pertama golongan kaum
Klasik, golongan ini menganggap bahwa uang tidak memiliki pengaruh terhadap
sektor riil, suku bunga, kesempatan kerja dan pendapatan nasional. Uang hanya
berpengaruh terhadap harga barang. Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan
kenaikan harga saja, sedangkan jumlah output yang dihasilkan tidak berubah.
Teori permintaan uang Klasik dikenal dengan teori kuantitas uang yang
dirumuskan oleh Irving Fisher.
1.2 Rumusan
Masalah
PERUMUSAN
MASALAH
1. Mengapa
saat inflasi mengalami kenaikan nilai uang menurun dan bagaimana cara
mengatasinya
2.
Kenapa kenaikan inflasi menyebabkan
deposito bank menurun dan berpengaruh pada minat orang untuk menabung menjadi sedikit.
1.3 Tujuan
Makalah
Dengan
adanya makalah ini,maka pundi-pundi pengetahuan kita dapat bertambah,terutama
dalam bidang ekonomi. Dapat memahami tentang pengertian,
macam-macam indeks harga. Dapat membandingkan antara indeks harga tertimbang
dan tidak tertimbang. Dapat menghitung indeks harga tertimbang dan tidak
tertimbang. Untuk mengetahui pengertian, jenis-jenis, penyebab, teori, dampak, dan
cara mengendalikan inflasi. Tahu menahu peranan penting uang
dalam kegiatan ekonomi suatu negara.
BAB II
LANDASAN
TEORI
2.1
INDEKS HARGA
A.
Pengertian Indeks Harga
Indeks harga
perbandingan antara harga rata-rata pada tahun yang dihitung dengan harga
rata-rata pada tahun dasar. Tahun dasar yang digunakan adalah tahun yang dibuat
sebagai patokan perhitungan.
Angka indeks adalah angka yang diharapkan dapat memberitahukan perubahan-perubahan variable sebuah atau lebih karakteristik pada waktu dan tempat yang sama atau berlainan.
Angka indeks adalah angka yang diharapkan dapat memberitahukan perubahan-perubahan variable sebuah atau lebih karakteristik pada waktu dan tempat yang sama atau berlainan.
Secara umum ada tiga macam indeks yang sering
digunakan dalam perekonomian, yaitu:
1.
Indeks harga
Indeks harga adalah angka yang menunjukkan
perubahan mengenai harga-harga barang, baik harga untuk satu macam barang
maupun berbagai macam barang, dalam waktu dan tempat yang sama atau berlainan.
2.
Indeks jumlah
Indeks jumlah adalah
angka yang menunjukkan perubahan mengenai jumlah barang sejenis atau sekumpulan
barang yang dihasilkan, digunakan, diekspor, dijual, dan sebagainya untuk
waktudan tempat yang sama ataupun berlainan.
3.
Indeks nilai
Indeks nilai adalah angka yang dapat
dipergunakan untuk mengetahui nilai mengenai barang yang sejenis atau
sekumpulan barang dalam jangka waktu yang diketahui.
Peranan indeks harga dalam perekonomian:
1.
Indeks harga merupakan petunjuk kondisi perekonomian secara umum
2.
Indeks harga dapat digunakan sebagai deflator
3.
Indeks harga dapat digunakan sebagai pedoman bagi pembelian
barang
B.
Tujuan Perhitungan Indeks Harga
Tujuan penyusunan angka indeks adalah mengukur perubahan atau
melakukan perbandingan antara variable ekonomi dan sosial.
Tujuan perhitungan
indeks harga adalah:
a. Sebagai petunjuk atau
indikator yang dapat digunakan dalam mengukur kegiatan ekonomi secara umum.
b. Indeks harga pedagang
besar dapat memberi gambaran tren atau kecenderungan dalam perdagangan.
c. Indeks harga konsumen
(IHK) dan indeks harga biaya hidup dapat digunakan untuk penetapan gaji dan
perubahannya.
d. Sebagai pedoman
pembelian bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki persediaan dalam jumlah
besar dan teratur.
e. Indeks harga yang
berlaku bagi petani, yang dibayar dan diterimanya, merupakan gambaran apakah
petani semakin makmur atau semakin melarat.
f. Indeks harga umumnya
digunakan pedagang dalam kebijakan penetapan harga dan penentuan jumlah
persediaan.
C.
Metode Perhitungan Indeks Harga
Ø Perhitungan Indeks Harga Tidak Tertimbang
a.
Metode Agregatif Sederhana
Perhitungan indeks harga agregatif sederhana
atau tidak tertimbang dilakukan dengan membandingkan keseluruhan harga pada
waktu tahun berjalan terhadap keseluruhan harga komoditi pada waktu tahun
dasar.
Rumus: IA
= ∑Pn / ∑PoX 100%
Keterangan:
IA : Indeks harga menurut agregatif sederhana
Pn : harga tahun tertentu
Po : harga tahun dasar
Contoh: harga rata-rata bahan pokok dari
beberapa pasar tahun 2012-2013seperti tabel dibawah. Harga-harga dinyatakan
dalam rupiah dan merupakan harga rata-rata tahunan.
|
Jenis bahan pokok
|
2012
|
2013
|
|
Beras/kg
|
5500
|
6300
|
|
Ikan asin/kg
|
26000
|
30000
|
|
Minyak klapa/kg
|
7800
|
13500
|
|
Gula pasir/kg
|
6800
|
6800
|
|
Garam/kg
|
2000
|
2000
|
|
Minyak tanah/liter
|
3000
|
4000
|
|
Mie instan/bungkus
|
1000
|
1100
|
|
Susu kental manis/kaleng
|
6500
|
7500
|
|
Telur ayam/kg
|
9500
|
12000
|
|
Jumlah
|
68100
|
83200
|
Indeks harga =
∑Pn / ∑PoX 100%
Indeks harga 2012 = 68100/68100 x 100 %= 100%
Indeks harga 2013 = 83200/68100 x 100 %= 122,17%
Dari perhitungan diatas dapat dilihat bahwa
indeks harga naik 22,17% untuk tahun 2013 dibandingkan tahun 2012
b. Metode Rata-Rata dari Relatif Harga
Rumus: IRH = ((εPn / εPo )
/n ) x 100%
Keterangan:
Pn : Harga tahun tertentu
Po : harga tahun dasar
n : Jumlah komponen
Ø Metode Perhitungan Indeks Harga Tertimbang
a. Metode Laspeyres
adalah metode
penghitungan angka indeks yang ditimbang dengan menggunakan factor penimbang
kuantitas/jumlah barang pada tahun dasar (Qo)
Rumus = ∑Pn.Qo /
∑Po.Qo X 100%
b. Metode Paasche atau GNP Deflator
adalah metode penghitungan
angka indeks yang ditimbang dengan menggunakan factor penimbang kuantitas pada
tahun tertentu (Qn)
Rumus = ∑Pn.Qn / ∑Po.Qn X
100%
2.2
INFLASI
A. Pengertian Inflasi
Inflasi adalah kenaikan harga
(penurunan nilai barang dan jasa) secara terus menerus dalam berkepanjangan
atau dalam jangka waktu yang lama dan akan mengakibatkan nilai mata uang akan
mengalami penurunan. Secara singkat dapat diartikan,Inflasi adalah Suatu keadaan perekonomian dimana
harga-harga secara umum mengalami kenaikan. Infalsi berlangsung dalam jangka
waktu yang panjang tidak bersifat sementara, bersifat sementara seperti
kenaikan yang diakibatkan karena masa lebaran bukan termasuk dalam inflasi
karena setelah lebaran harga-harga akan turun kembali.
Inflasi
dapat juga dikatakan sesuatu yang dihadapi setiap hari, ketika pergi ke pasar
merasakan perbedaan harga kemarin dan hari ini maka itulah inflasi, ketika
berobat ke dokter harga obat meningkat dari tahun lalu. Inflasi dapat
menyebabkan nilai mata uang turun dapat kita amati ketika harga somay naik dari
Rp 4.000 menjadi Rp 10.000, ada kemungkinan semakin banyak orang datang untuk
menikmati somay, namun hal itu mungkin tidak terjadi, lebih mungkin kenikmatan
orang akan somay hampir sama dari waktu ke waktu, namun uang yang di gunakan
untuk membeli somay menjadi kurang berharga.
B. Penyebab
Inflasi
Penjelasan
klasik mengenai terjadinya inflasi adalah masuknya uang terlalu banyak ke
masyarakat sehingga masyarakat semakin ingin membelanjakan uang mereka,dan
jumlah barang yang tidak seimbang dengan permintaan pasar(konsumen) membuat
harga barang naik.
Inflasi
disebabkan oleh kenaikan permintaan, kenaikan harga produksi dan pertambahan
uang yang beredar.
a) Inflasi
karena kenaikan permintaan (demand-pull inflation)
Inflasi seperti ini
terjadi karena adanya kenaikan permintaan untuk beberapa jenis barang.
Permintaan masyarakat meningkat secara agregat (aggregate demand), permintaan masyarakat terhadap barang lebih
besar dari pada penawaran barang sehingga terjadi ketidak seimbangan antara
permintaan dan penawaran, akhirnya harga barang naik. Peningkatan permintaan
dapat terjadi karena peningkatan belanja pemerintah, peningkatan permintaan
barang ekspor, peningkatan barang untuk kebutuhan swasta, terlalu banyak uang
yang di lahirkan oleh bank sentral dapat menyebabkan inflasi, peningkatan
anggaran belanja Negara dan ekspansi dapat meningkatkan permintaan barang secaa
keseluruhan, pajak di turunkan atau konsumen enggan menabung dapat menyebabkan
inflasi.
Kurva
3. P2 E2
P1 E1 D2
Harga naik D1 2. Kurva bergeser
0 Q1 Q2
1.
Permintaan barang naik,
sedangkan penawaran tetap.
b) Inflasi
yang disebabkan karena kenaikan biaya produksi (Cost-Push Inflation)
Pada
kenaikan biaya produksi terjadi bukan karena ketidakseimbangan antara
permintaan barang dan penawaran. Inflasi seperti ini terjadi karena adanya
kenaikan biaya produksi.misalnya karena keberhaslan serikat buruh dalam
kenaikan upah atau karena naiknya BBM.
Menurut
teori ini pekerja yang menuntut gaji yang lebih besar pada perusahaan saat
perusahaan harus membayar gaji tinggi pada karyawannya biaya produksi
meningkat.
Proses inflasi spiral
(Cost-Push Inflation)
|
2. Biaya produksi perusahaan naik
|
|
3. Perusahaan menurunkan jumlah produksi barang
|
|
5. Buruh harus memenuhi kebutuhan.
|
|
4. Harga barang di
pasar naik.
|
|
1.
Serikat pekerja menuntut kenaikan gaji
|
Sedangkan kurva sebagai berikut 2. Kurva
bergeser
S2 S1
P2
P1
3.harga
naik
Q2 Q1
1.
jumlah produksi turun karena
biaya produksi naik, sedangkan permintaan tetap
c) Inflasi karena jumlah uang yang beredar
bertambah
Teori
yang di tunjukan oleh kaum klasik mengatakan bahwa ada hubungan antara uang
yang beredar dengan harga-harga. Jika jumlah barang tetap, sedangkan uang
beredar 2 kali lipat maka harga barang akan naik 2 kali lipat. Penambahan uang
yang beredar dapat terjadi misalnya kalau pemerintah memakai system anggaran
deficit. Kekurangan anggaran ditutup dengan mencetak uang baru ysng mengakibatkan
harga-harga naik.
C.
Jenis-jenis Inflasi
a) Jenis
inflasi berdasarkan tingkat keparahannya
Dapat
dibedakan atas :
1. Inflasi
ringan
Inflasi
ringan adalah inflasi yang belum begitu menganggu keadaan ekonomi, masih mudah
di kendalikan belum menimbulkan krisis di bidang ekonomi.
2. Inflasi
sedang
Inflasi
ini belum membahayakan kegiatan ekonomi, tetapi sudah menurunkan kesejahteraan
orang-orang yang berpenghasilan tetap.
3. Inflasi
berat
Inflasi
ini sudah mengacaukan kondisi perekonomian, dalam inflasi ini orang cendenrung
menyimpan barang dan enggan menabung karena bunga tabungan lebih rendah dari
laju inflasi.
4. Inflasi
sangat berat (hyperinflation)
Inlasi
henis ini sudah mengacaukan kondisi oerekonomian dan dikendalikan dengan
kebijakan fiskal dan moneter .
Dalam
tabel di jelaskan presentasi berdasarkan tingkat keparahan
|
No
|
Jenis
Inflasi
|
Presentase
|
|
1.
|
Inflasi
ringan
|
Dibawah
10% setahun
|
|
2.
|
Inflasi
sedang
|
10%
- 30% setahun
|
|
3.
|
Inflasi
berat
|
30%
- 100% setahun
|
|
4.
|
Inflasi
sangat berat
|
Diatas
100% setahun
|
b) Jenis
Inflasi berdasarkan sumbernya
1. Inflasi
yan bersumber dari luar negri
Terjadi
karena ada kenaikan harga diluar negri. Dalam perdagangan bebas, banyak negara
yang saling berhubungan dalam perdagangan, jika Negara mengimpor barang dari
Negara yang mengalami inflasi maka otomatis kenaikan harga tersebut akan
mempengaruhi harga-harga dalam negri dan menyebabkan inflasi.
2. Inflasi
yang bersumber dari dalam negri
Terjadi
karena pencetakan uang baru oleh pemerintah atau penerapan anggaran defisit, dapat
juga terjadi karena gagal panen, karena menyebabkan penawaran berkurang harga
tetap, menyebabkan harga akan naik
c) Jenis
Inflasi berdasarkan penyebabnya
1. Inflasi
karena kenaikan permintaan
Kenaikan
terkadang tidak dapat dipengaruhi produsen. Oleh karena itu, harga-harga
cederung naik, sesuai hukum ekonomi “ jika permintaan naik sedangkan penawaran
tetap maka harga cenderung naik”.
2. Inflasi
karena kenaikan biaya produksi
Kenaikan
biaya produksi mengakibatkan harga penawaran barang naik, sehingga dapat menimbulkan
inflasi.
D.
Meghitung Inflasi
Angka inflasi merupakan indikator yang digunakan untuk menghitung laju
ekonomi dan untuk mengambil keputusan. Misalnya perusahaan akan menaikan gaji
karyawan untuk mengimbangi kenaikan harga akibat inflasi, jika tingkat inflasi
10% dan gaji naik 5% maka kenaikan gaji itu tidak cukup untuk mengimbangi
kenaikan inflasi. Indikator ekonomi ialah tinggi rendahnya angka inflasi.
Kenaikan angka inflasi/ laju inflasi ialah tingkat
presentasi kenaikan harga dalam beberapa indeks harga dalam satu period eke
periode lainnya.
Untuk menghitung besarnya inflasi harus mengetahui Indeks Harga Konsumen
(IHK) mengukur perubahan harga kelompok barang dan jasa yang sering dipakai
dalam rumah tangga dalam jangka waktu
tertentu, seperti:
a. Bahan
makanan.
b. Makan
jadi, minuman, rokok, dan tembakau.
c. Perumahan.
d. Sandang.
e. Kesehatan.
f. Pendidikan,
rekreasi, dan olah raga.
g. Transportasi
dan komunikasi.
Jadi
menghitung laju inflasi dapat menggunakan rumus :
IHKperiode ini — IHKperiode
sebelumnya
100%
IHK periode
sebelumnya
Contoh
:
IHK
bulan april 2004 adalah 111,91 sementara IHK bulan Maret 2004 adalah 1110,83,
maka laju inflasi bulan april 2004 adalah….
Jawab:
IHK
april – IHK maret 111,91– 110,83
100% = 100 % =
0,97
IHK maret 110,83
Atau
X
100% = Pno
Keterangan:
Pon
= angka indeks harga tahun n atas dasar tahun o
po
= harga tahun dasar(tahun basis)
Pn = harga pada tahun yang di hitung
indeksnya
jumlah
Contoh
:
Harga
beberapa bahan pokok pada tahun 2013 adalah 8.156,85 sedangkan pada tahun 2014
bahan pokok yang sama seharga 8.299,00, indeks harga tahun 2014 adalah….
Jawab :
Indeks harga 2014 = 8.299,00
X
100% = 101,74, disimpulkan bahwa pada tahun 2014
5
mengalami kenaikan sebesar 1,74%
E. Dampak
dan Cara mengendalikan Inflasi
a.
Dampak inflasi
Inflasi tidak selalu
berdampak buruk pada perekonomian, inflasi yang terkendali dapat meningkatkan
perekonomian, berikut ini akibat inflasi terhadap perekonomian :
1)
Dampak Inflasi terhadap pendapatan
Inflasi dapat mengubah
pendapatan masyarakat bisa menguntungkan dan merugikan. Inflasi dapat mendorong
perkembangan ekonomi, yang dapat mendorong pengusaha memperluas produksinya
maka akan tumbuh kesempatan kerja baru danbertambah pendapatan seseorang.
Namun, bagi masyarakat penghasilan tetap inflasi merugikan karena penghasilan
tetap di tukarkan dengan barang dan jasa akan semakin sedikit.
2)
Dampak Inflasi terhadap Ekspor
Daya saing barang ekspor berkurang karena
harga barang ekspor semakin mahal, inflasi dapat menyulitkan para eksportir dan
Negara, Negara rugi karena daya saing barang berkurang devisa yang di peroleh
semakin kecil.
3)
Dampak inflasi terhadap minat orang untuk
menabung
Pendapatan riil para
penabung berkurang karena jumlah bunga yang diteima berkurang karena laju
inflasi, missal juni 2006 seorang menyetor uang ke bank dalam bentuk deposito
setahun, deposito menghasilkan bunga 15% pertahun, tingkat inflasi januari
2006-januari 2007 cukup tinggi 11% maka pendapatan uang yang didepositikan
tinggal 4% maka minat orang untuk menabung akan berkurang.
4)
Dampak inflasi terhadap kalkulasi harga
pokok
Menyebabkan perhitungan
harga pokok terlalu besar dan kecil, presentasi dari inflansi tidak teratur,
tidak memastikan persen inflasi untuk masa tertentu, penetapan harga pokok dan
harga jual tidak tepat, inflasi mengacaukan perekonomian terutama produsen.
b.
Cara mengendalikan Inflasi
Tingkat inflasi yang
terlalu tinggi membahayakan perekonomian suatu negara. Berikut tindakan
pengendalian inflasi:
1)
Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter
adalah kebijakan pemerintah di bidang
keuangan (melalui bank sentral) untuk mengatur agar jumlah uang yang beredar
sesuai jumlah yang di butuhkan dalam suatu system perekonomian. Kebijakan
tersebut diantaranya :
a)
Kebijakan penetapan persediaan kas
Bank sentaral dapat
mengambil kebijakan mengambil uang yang beredar dengan menetapkan uang kas pada
bank, dengan mewajibkan bank umum meningkatkan persediaan kas, maka uang yang
diedarkan bank umum memjadi sedikit dengan mengurangi uang beredar inflasi
dapat di tekan.
b)
Kebijakan diskonto
Bank sentral
meningkatkan nilai suku bunga, bertujuan agar masyarakat terdorong untuk
menabung, agar uang yang beredarbdapat berkurang dan inflasi dapat di tekan.
c)
Kebijakan operasi pasar terbuka
Bank sentral mengurangi
jumlah uang dengan menjual surat berharga
misal Surat Utang Negara (SUN), semakin banyak surat terjual jumlah uang
semakin berkurang dan menekan inflasi.
2)
Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiscal adalah
langkah untuk memengaruhi penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan
dapat mempengarhi tingkat inflasi, diantaranya:
a)
Menghemat pengeluaran pemerintah
Dalam menekan Inflasi
dengan cara mengurangi pengeluaran, sehingga permintaan barang dan jasa
berkurang akhirnya dapat menurunkan harga.
b)
Menaikan tarif pajak
Naiknya tarif pajak
rumah tangga dan perusahaan akan mengurangi tingkat konsumsi dan dapat
mengurangi permintaan barang dan jasa, sehingga harga dapat turun.
3)
Kebijakan diluar Kebijakan Moneret dan
Kebijakan Fiskal
a)
Meningkatkan produksi dan jumlah barang
di pasar
Pemerintah mengeluarkan
peraturan yang mendorong produsen menambah produksi dengan member premi atau
subsidi pada perusahaan yang memenuhi target tertentu, pemerintah melonggarkan
keran import untuk menambah barang yang beredar dengan menurunkan bea masuk
barang impor.
b)
Menetapkan harga maksimum untuk beberapa
jenis barang
Penetapan akan
mengendalikan harga ehingga inflasi dapat terkendali, penetapah harga harus
realistis, jika tidak realistis dapat terjadi pasar gelap (black market).
2.3 TEORI PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG
A. Teori
Permintaan
Permintaan uang adalah istilah yang
digunakan oleh pakar ekonom untuk menerangkan
mengapa individu dan perusahaan memegang uang. Ada dua alasan untuk itu,
pertama adalah transaction demand , yang menunjukkan bahwa orang perlu uang
untuk membeli sesuatu. Kedua adalah asset demand, yang menunjukkan keinginan
untuk memiliki harta (aset) yang sangat lancar dan bebas resiko. Dengan kata
lain, permintaan uang adalah jumlah unit moneter (berupa uang kartal maupun
giral) yang ingin dipegang sebagai harta tunai. Dalam perkembangannya ada
beberapa teori yang menyatakan tentang permintaan uang diantaranya :
1. Teori Kuantitas Sederhana
(Crude Quantity Theory) Ricardo
Ricardo
telah memecahkan masalah nilai uang dengan memperhatikan hubungan yang lurus
antara jumlah uang dengan harga barang. Dia telah mengambil kesimpulan bahwa
jumlah uang dengan nilai uang mempunyai hubungan terbalik.Bila pendapat itu
dihubungkan dengan harga maka pendapat Ricardo diatas dapat dinyatakan sebagai
berikut: “Bila jumlah uang
naik dua kali lipat, hargapun akan naik dua kali lipat, demikian pula
sebaliknya”
Rumus:M
= k.p atau P = 1/k.M
M = Jumlah
Uang Beredar
P = Tingkat harga
K = Merupakan factor proporsional yang konstan
Dengan kata
lain teori Ricardo menyatakan bahwa jumlah uang langsung proporsional terhadap
tingkat harga atau tingkat harga langsung proporsional dengan jumlah uang.
Teori
kuantitas ini terlalu sederhana, karena tidak memperhitungkan faktor cepatnya
peredaran uang atau V, atau faktor permintaan terhadap uang. Lagi pula teori
tersebut tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya yang terjadi dalam
masyarakat.
2. Transaction Equation atau
Transaction Velocity Approach
Teori ini
merupakan penyempurnaan daripada teori yang sebelumnya dilakukan oleh Irving
Fisher. Ia menyatakan bahwa yang menentukan nilai uang ada 3 faktor yaitu:
a. Jumlah uang beredar (M)
b. Cepatnya peredaran uang (V)
c. Jumlah barang yang diperdagangkan atau volume barang
yang diperdagangkan (T)
Rumus:MV = PT atau P = MV/T
Persamaan MV =
PT menyatakan bahwa jumlah total uang yang dikelurkan oleh pembeli sama dengan
jumlah total uang yang diterima oleh penjual. Saat ini, yang dimaksud dengan M
adalah uang giral ditambah dengan uang kartal. Seperti diketahui bahwa kaum
klasik beranggapan:
a. Uang hanya untuk tujuan
transaksi dan berjaga-jaga
b. Dalam jangka pendek Velocity
of Money adalah tetap
c. Barang-barang dan jasa-jasa
jumlahnya tetap karena perekonomian dianggap sudah mencapai full employment
Berdasarkan
tiga anggapan diatas maka sebenarnya teori Fisher dapat dikatakan ”bahwa
dalam jangka pendek tingkat harga umum (P) berubah secara proporsional dengan
perubahan supply uang (M). Hal ini sama dengan pendapat Crude Quantity
Theori dari Ricardo.
3. Income Payment Approach
(Liquidity Preperence) J.M. Keynes
Permintaan uang dalam teori ini
dikemukakan oleh John Maynard Keynes, teori ini berbanding terbalik dengan
teori kuantitas uang. Kalau pada kuantitas uang tidak diperlukannya tingkat
suku bunga, lain halnya dengan teori ini, di dalam teori ini tingkat suku bunga
sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat untuk memilih memegang uang
tunai atau surat-surat berharga.
Penekanan faktor tingkat bunga terhadap
keinginan memegang uang inilah yang memungkinkan analisis permintaan uang
sebagai alat untuk memeroleh keuntungan. Permintaan uang menurut John Maynard
Keynes ini adalah sejumlah uang yang diminta masyarakat untuk keperluan
transaksi, berjaga-jaga, dan juga untuk spekulasi di dalam sebuah perekonomian.
Menurut Keynes ada 3 motif yang mempengaruhi tingkat permintaan uang,
diantaranya yaitu :
a. Motif
Transksi ( Transaction Motive )
·
Gambar Kurva Permintaan Uang berdasarkan Motif
Transaksi
Pendapatan seseorang sangat
mempengaruhi besar-kecilnya jumlah permintaan uang untuk transaksi. Dengan
demikian apabila seseorang memiliki pendapatan yang tinggi maka jumlah uang
yang diperlukan untuk transaksi juga tinggi, begitu juga sebaliknya apabila
seseorang berpendapatan rendah maka jumlah uang yang diperlukan untuk melakukan
transaksi keuangan juga rendah. Dengan mengacu pada konsep tersebut maka kurva
permintaan uang berdasarkan motif transaksi digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan gambar kurva di atas
maka terlihat bahwa ketika terjadi kenaikan tingkat pendapatan (dari Y0 ke Y1)
maka jumlah uang yang dibutuhkan untuk transaksi juga meningkat (dari M0 ke
M1).
b. Motif
Berjaga-jaga (Precautionary Motive)
·
Gambar Kurva Permintaan Uang berdasarkan Motif
Berjaga-jaga
Pendapatan seseorang selain
mempengaruhi terhadap besar-kecilnya jumlah permintaan uang untuk transaksi,
juga sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya jumlah permintaan uang untuk
berjaga-jaga. Jadi semakin besar pendapatan seseorang, maka akan
berakibat besarnya jumlah uang yang diperlukan untuk berjaga-jaga. Kurva
permintaan uang berdasarkan motif berjaga-jaga digambarkan dalam kurva berikut ini:
Berdasarkan gambar kurva di atas
maka terlihat bahwa ketika terjadi kenaikan tingkat pendapatan (dari Y0 ke Y1)
maka jumlah uang yang dibutuhkan untuk berjaga-jaga juga meningkat (dari M0 ke
M1).
c. Motif
Spekulasi ( Speculative Motive)
·
Gambar Kurva Permintaan Uang berdasarkan Motif
Spekulasi
Suku Bunga sangat mempengaruhi besar
kecilnya permintaan uang yang digunakan untuk berspekulasi. Apabila tingkat
suku bunga tinggi maka jumlah permintaan uang untuk berspekulasi rendah dan
sebaliknya jika suku bunga rendah maka jumlah permintaan uang untuk
berspekulasi tinggi. Dengan demikian Hubungan antara tingkat suku bunga dengan
jumlah permintaan uang untuk kegiatan spekulasi berbanding terbalik, hal ini
disebabkan karena apabila suku bunga tinggi maka masyarakat akan lebih tertarik
menabung di bank daripada untuk berspekulasi. Sedangkan ketika suku bunga
rendah maka masyarakat akan berlomba-lomba untuk melakukan kegiatan spekulasi
(baik dipasar modal maupun pasar uang) sehingga jumlah permintaan untuk kegiatan
spekulasi tinggi. Kurva permintaan uang berdasarkan motif spekulasi
digambarkan sebagai berikut:
Berdasarkan kurva di atas maka
terlihat ketika terjadi kenaikan suku bunga dari r0 ke r1 maka permintaan uang
untuk spekulasi menurun dari M0 ke M1.
Dikarenakan adanya tiga motif inilah
yang menyebabkan timbulnya tiga macam demand terhadap permintaan uang.
Diantaranya yaitu :
a. Demand
Untuk Transaksi
b. Demand
untuk Keperluan Berjaga-Jaga
c. Demand
untuk Keperluan Spekulasi
B. Teori
Penawaran
Pada hakikatnya, penawaran uang adalah
jumlah uang yang tersedia dalam suatu perekonomian. Kita telah mengenal
kebijakan moneter, yaitu kebijakan yang bertujuan untuk mengatur penawaran uang
/ mengatur jumlah uang yang beredar. Jadi penawaran uang merupakan tugas
pemerintah melalui bank sentral (Bank Indonesia).
Yang dimaksud dengan penawaran uang
disini adalah jumlah uang yang beredar di masyarakat. Perubahan jumlah uang
yang beredar secara garis besar dipengaruhi oleh uang inti dan pelipat uang.
Besarnya uang inti sangat tergantung pada tindakan-tindakan yang ditentukan
oleh pemerintah khususnya bank sentral. Pelipat uang, di lain pihak, disamping
dipengaruhi oleh perilaku bank sentral juga ditentukan oleh perilaku agen-agen
ekonomi lainnya seperti bank umum dan masyarakat domestik.
Sangat perlu dipahami bahwa konsep uang
sangat terkait pada konsep likuiditas. Suatu asset likuid adalah asset yang
dengan mudah dapat diuangkan dengan tanpa kehilangan risiko rugi. Pada satu
sisi ekstrim dari spectrum likuiditas, uang tunai adalah asset yang paling
likuid dengan daya beli penuh. Pada tingkat spektrum likuiditas moderat kita
mengenal uang kuasi yang secara definitive tidak secara langsung berfungsi
sebagai medium of exchange. Pada sisi
ekstrim lainnya kita mengenal asset-aset fisik yang sangat tidak likuid sebagai
alat pertukaran seperti rumah, tanah, obligasi jangka panjang dan sebagainya.
Secara singkat, penawaran uang
(dilambangkan dengan L) yang diatur oleh bank Indonesia dengan istilah M1, M2,
M3, dan L untuk uang. M1 adalah uang logam, uang kertas, dan rekening giro. M2
adalah M1 ditambah tabungan non giral dan rekening bank yang kurang likuid
lainnya (tidak bisa dicairkan dalam bentuk cek). M3 adalah adalah M2 ditambah
kesepakatan pembelian kembali dalam jangka panjang, dan aset lain. Adapun
penawaran uang (L) tidak hanya mencakup M1, M2, dan M3, tetapi juga near money,
yaitu kekayaan bentuk lain yang bisa dikonversi kedalam bentuk yang likuid, dan
dapat dihitung sebagai uang. Contohnya adalah obligasi pemerintah Indonesia, atau
janji pembayaran oleh perusahaan besar.
Jika dirumuskan : L = M1 + M2 + M3 +
near money
v Kurva Penawaran Uang
Pemerintah melalui bank sentral sangat mempengaruhi besar
kecilnya penawaran uang atau jumlah uang yang beredar dalam jumlah tetap pada
periode tertentu. Sehingga, hal tersebut membuat kurva penawaran uang berbentuk
kurva inelastis sempurna yang berupa garis vertikal tegak lurus. Adapun Gambar
kurva penawaran uang adalah sebagai berikut:
Berdasarkan gambar kurva penawaran uang di atas trlihat bahwa
jumlah uang beredar akan memiliki jumlah yang tetap meskipun suku bunga
mengalami kenaikan atau penurunan, hal ini karena pemerintah melalui bank
sentral selalu berupaya agar uang yang beredar memiliki jumlah tetap dalam
periode tertentu. Dari kurva di atas juga terlihat bahwa perubahan penawaran
uang dapat terlihat dari adanya pergerakan baik pergerakan dari Ms0 ke Ms1 atau
pergerakan dari Ms0 ke Ms2. Yang perlu diperhatikan adalah Apabila terjadi
pergerakan kurva kearah sebelah kiri maka menunjukan adanya pengurangan
penawaran uang seperti terlihat pergerakan dari Ms0 ke Ms1, dan sebaliknya
Pergerakan kurva penawaran uang ke arah kanan menunjukan adanya peningkatan
penawaran uang, seperti ditunjukan dalam kurva yaitu pergerakan dari MS0
ke MS2.
Ø FAKTOR
– FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG
A. Faktor
– Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang
Permintaan
uang dipengaruhi oleh tiga hal. Ketiga hal ini pada prinsipnya sejalan dengan
teori pendapatan yang dikemukakan oleh J.M Keynes :
1. Permintaan
uang untuk transaksi (transaction demand)
Terkait dengan fungsi uang sebagai alat tukar, kita
menggunakan uang untuk membeli barang dan jasa atau untuk membayar tagihan.
Permintaan uang untuk transaksi memiliki hubungan positif dengan pendapatan.
Jika pendapatan naik, maka permintaan uang untuk keperluan bertransaksi juga
meningkat.
2. Permintaan
uang untuk berjaga-jaga (precautionary demand)
Permintaan terhadap uang bisa saja karena orang
ingin berjaga-jaga terhadap suatu peristiwa yang tidak dikehendaki seperti
sakit, kecelakaan, kebanjiran dan kebakaran. Permintaan uang untuk berjaga-jaga
juga memiliki hubungan positif dengan pendapatan.
3. Permintaan
uang untuk spekulasi (speculative demand)
Spekulasi berarti melakukan sesuatu tindakan atas
dasar ramalan perubahan nilai harta di masa depan. Jika seorang spekulan
meramalkan bahwa harga rumah, nilai saham, atau harga emas akan meningkat
dimasa depan, mereka akan membeli rumah, saham, atau emas, dan bukan menyimpan
uang. Jadi, dalam hal ini spekulan berharap bahwa mereka akan mendapatkan
keuntungan dari peningkatan harga rumah, saham, atau emas di masa depan. Ini
tentu dengan sendirinya mengurangi permintaan uang.
B. Faktor
– Faktor Yang Mempengaruhi Penawaran Uang
Berikut ini adalah fakor – faktor yang mempengaruhi
keputusan Bank Indonesia dalam mengatur penawaran uang.
1. Tingkat
bunga
Ini
adalah faktor utama yang mempengaruhi jumlah uang beredar dalam perekonomian.
Jika tinkat bunga terlalu tinggi, dunia usaha akan lesu. Oleh karena itu, Bank
Indonesia akan menambah jumlah uang beredar sehingga tingkat bunga kembali
turun.
2. Tingkat
inflasi
Tingkat
inflasi yang tinggi dapat melumpuhkan perekonomian. Daya beli masyarakat
menjadi rendah. Perusahaan – perusahaan tidak dapat menjual barang dan jasa
yang ditawarkannya. Untuk itu, Bank Indonesia akan mengurangi jumlah uang
beredar, dengan tujuan agar tingkat bunga turun dan biaya produksi dapat
ditekan oleh perusahaan, sehingga akan menurunkan harga. Deflasi pun juga
berbahaya bagi perekonomian karena penurunan harga secara kontinu akan
melemahkan gairah untuk berusaha dan mengurangi investasi. Jika demikian, Bank
Indonesia akan meningkatkan jumlah uang beredar.
3. Tingkat
produksi dan pendapatan nasional
Dalam
tingkat produksi dan pendapatan nasional yang rendah (tercermin dalam PDB dan
PNB yang rendah) pemerintah mungkin akan memperbanyak jumlah uang beredar,
dengan tujuan untuk menggairahkan dunia perbankan dan dunia usaha. Misalnya
adalah dengan menurunkan tingkat suku bunga.
4. Kondisi
kesehatan dunia perbankan
Bank
Indonesia menetapkan tingkat cadangan tertentu, yang sekaligus menjadi pengukur
kesehatan bank. Jika bank kekurangan cadangan, biasanya mereka meminjam
sejumlah uang kepada Bank Indonesia dengan ingkat bunga tertentu yang disebut
sebagai discount rate (tingkat
diskonto). Jika dunia perbankan tidak sehat, biasanya Bank Indonesia akan
menaikkan tingkat diskonto untuk menurunkan tingkat cadangan di bank – bank dan
menurunkan jumlah uang beredar. Hal ini sekaligus meningkatkan suku bunga dan
menarik minat nasabah untuk menyimpan uangnya di bank – bank.
5. Nilai
tukar rupiah
Jika
nilai tukar rupiah menurun, pemerintah akan menurunkan jumlah rupiah yang
beredar, sehingga sesuai hukum keseimbangan permintaan dan penawaran, tingkat
bunga akan naik, dan nilai rupiah pun terangkat.
BAB III
PEMBAHASAN
inflasi
adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus
(continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai
faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas
di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga
akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.[1]
Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata
uang
secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan
tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi
belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat
perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara
terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga
digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang
yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.
Menurut
teori ekonomi konvensional, ketika terjadi inflasi tinggi, maka minat
masyarakat untuk menabung (propensity to save/PTS) akan berkurang. Karena
mereka khawatir kalau-kalau nilai tabungannya semakin lama semakin menurun,
sehingga mereka mengurungkan niatnya untuk menabung, bahkan mereka cepat-cepat
membelanjakan uang / pendapatannya.
Pada masa inflasi,
pendapatan rill para penabung berkurang karena jumlah bunga yang diterima pada
kenyataannya berkurang karena laju Inflasi. Misalnya, bulan Januari tahun 2006
seseorang menyetor uangnya ke bank dalam bentuk deposit dalam satu tahun.
Deposito tersebut menghasilkan bunga sebesar, misalnya, 15% per tahun. Apabila
tingkat Inflasi sepanjang Januari 2006 — Januari 2007 cukup tinggi, katakanlah
11%, maka pendapatan dari uang yang didepositokan tinggal 4%. Minat orang untuk
membung akan berkurang.
BAB III
PENUTUP
4.1KESIMPULAN
Angka indeks
adalah sebuah rasio yang umumnya dinyatakan dalam persentase yang mengukur satu
variabel pada suatu waktu atau lokasi tertentu relatif terhadap besarnya
variabel yang sama atau lokasi lainnya. Dalam penyusunan angka indeks, hal-hal
yang harus diperhatikan yaitu tujuan penyusunan angka indeks, sumber dan syarat
perbandingan data, pemilihan periode dasar, dan pemilihan timbangan.
Perhitungan indeks harga dibagi menjadi dua yaitu, indeks harga agregatif tidak
tertimbang dan indeks harga agregatif tertimbang.
Inflasi adalah naiknya harga-harga
yang bersumber dari terganggunya keseimbangan antara arus uang dan barang.
Inflasi dapat dibedakan berdasarkan menjadi beberapa jenis. Berdasarkan tingkat
keparahan, terdapat inflasi ringan, inflasi sedang, inflasi berat dan inflasi
sangat berat. Berdasarkan penyebab, terdapat Demmand-pull inflation dan
cost-push inflation. Berdasarkan asal terdapat imported inflation dan inflasi
dalam negeri.
Uang
adalah suatu alat pembayaran yang sah diterbitkan oleh pemerintah melalui bank
sentral, baik berbentuk kertas maupun berbentuk logam yang memiliki nilai/
besaran tertentu sesuai tertera pada mata uang kertas ataupun logam tersebut,
dimana penggunaannya diatur dan dilindungi oleh undang-undang. Secara
sederhana, pengertian uang adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai
alat pembayaran yang sah didalam pertukaran/perdagangan. Syarat-syarat agar
sesuatu dapat dikatakan sebagai uang, ialah acceptability, stability of value,
elasticity of supply, portability, durability, dan divisibility.
Dalam
kajian mengenai teori permintaan uang, ada beberapa golongan yang berpendapat.
Pertama golongan kaum Klasik, golongan ini menganggap bahwa uang tidak memiliki
pengaruh terhadap sektor riil, suku bunga, kesempatan kerja dan pendapatan
nasional. Uang hanya berpengaruh terhadap harga barang. Bertambahnya uang
beredar akan mengakibatkan kenaikan harga saja, sedangkan jumlah output yang
dihasilkan tidak berubah. Teori permintaan uang Klasik dikenal dengan teori
kuantitas uang yang dirumuskan oleh Irving Fisher.
4.2 SARAN
Menurut kami seharusnya pemerintah
Indonesia harus lebih bisa menekan lagi impor yang datang. Dengan tujuan nilai mata uang dalam negeri menguat terhadap nilai
mata uang umumnya dan menguat terhadap dollar khususnya. Serta mengurangi
timbulnya hutang Indonesia terhadap negara lain. Dan Indonesia juga harus lebih
meningkatkan faktor – faktor produksi baik dari segi kualitas maupun jumlah
sehingga tidak timbul inflasi yang terlalu tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar